EMOSIONAL BERPENGARUH TERHADAP KEEFEKTIFAN KEPEMIMPINAN

         Goleman (1998), setelah mengkaji model kompetensi terhadap 188 perusahaan  mengevaluasi      keterampilan  kognitif,  keterampilan  teknikal,  dan kecerdasan emosi,  menyimpulkan bahwa, dibanding dua  faktor   yang    lain, kecerdasan emosi  merupakan  faktor yang dua kali  lebih  penting dan lebih relevan  dengan   peningkatan   jenjang   kepemimpinan. Menurut   Goleman   (1995) kepemimpinan   bukanlah berarti   menguasai,   melainkan   seni   meyakinkan   orang untuk  bekerja   keras    mencapai tujuan  bersama. Selain itu,  dalam    rangka memantapkan  kerja   meyakinkan orang dan  karir   sebagai   pemimpin, barangkali tidak   ada   yang   lebih   penting   bagi   pemimpin itu selain mengenali   perasaannya yang terdalam mengenai hal-hal yang dikerjakan.
         Dengan demikian jelas bahwa secara konseptual kecerdasan emosional yang   diwujudkan   dalam   kompetensi   emosional   merupakan   faktor   yang   penting bagi keefektifan kepemimpinan organisasi dimana otoritas formal tidak lagi efektif untuk    menggerakkan orang lain  sebagaimana  terjadi  pada  sekolah. Dalam organisasi   seperti   ini   pemimpin   harus  mampu   menekan   sampai   batas   minimal, bahkan meniadakan, kesenjangan herarkhis antara sang pemimpin dengan yang dipimpin.Dengan tiadanya   kesenjangan herarkhis ini  maka  perasaan sang pemimpin akan begitu   dekat dengan pengikutnya. Sang pemimpin benar-benar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pengikutnya, dan pada akhirnya setiap kebijakan   dan   keputusan   yang   dibuat   tidak   akan   didominasi   oleh   apa   yang   ia rasakan namun juga akan berdasar apa yang dirasakan oleh pengikutya.
         Sejumlah penelitian terakhir mendukung hubungan antara kepemimpinan dengan kecerdasan emosional  tersebut.   Penelitian-penelitian    ini  dilakukan   di berbagai negara di dunia pada organisasi-organisasi yang bergerak di berbagai sektor yang berbeda-beda, seperti  industri   konstruksi,   kesehatan,   dunia usaha,
politik,   dan   pendidikan. Semua  penelitian itu  membuktikan  bahwa   kecerdasan emosional   pemimpin, yang   diwujudkan   dalam   kompetensi   emosional   di   tempat kerja,  berpengaruh terhadap kepemimpinan ransformasional (Hadi,    2008). Untuk   memahami   lebih   jauh tentang   kecerdasan   emosional,  berikut   diuraikan secara singkat pengertian dan dimensi-dimensi dari konsep ini.
1.    Pengertian Kompetensi Emosional
         Konsep     kompetensi      emosional    (emotional  competencies) sangat   erat kaitannya     dengan      konsep     kecerdasan      emosional      (emotional    intelligence). Kompetensi        emosional       dikembangkan        berdasarkan       konsep      kecerdasan emosional   (Goleman,   2001.,   Boyatzis   &   Sala,   2004;   Hunt,   2006).   Kecerdasan emosional      merupakan       potensi    awal  yang     dimiliki  seseorang      untuk    dapat
mengembangkan kompetensi emosional di tempat kerja (Boyatzis, Goleman, & McKee,      2002).   Menurut   Cherniss   (2001),   kecerdasan   emosional   memberikan landasan      bagi   perkembangan       sejumlah     besar    kompetensi     yang    membantu seseorang   berkinerja   lebih   efektif.   Kecerdasan   emosional   pada   tingkat   tertentu menjadi   syarat   untuk   mengembangkan   kompetensi   emosional   (Gowing   dalam Cherniss, 2000). Kecerdasan emosional dan kompetensi emosional merupakan dua    hal  yang   tidak  dapat   dipisahkan.    Pembedaan      yang    cukup   tegas   antara kecerdasan emosional dan kompetensi emosional dibuat oleh                 Offerman, Bailey, Vasilopoulos,   Seal,   dan   Sass   (2004).   Mereka   menyatakan   bahwa   kecerdasan
emosional      merupakan   kecerdasan terstandar    yang   banyak     didukung    oleh pendekatan   kemampuan   (ability   approach), sementara kompetensi  emosional memadukan kemampuan-kemampuan pokok    kecerdasan     emosional     dengan produk-produk  atau manifestasi  dari kecerdasan   emosional   yang   merefleksikan
realisasi   potensi   kecerdasan     emosional     yang   berbasis   kemampuan  tersebut. Oleh karena itu setiap pembahasan kompetensi emosional selalu diawali dengan pembahasan kecerdasan emosional, bahkan beberapa      ahli  menggunakan keduanya      saling  bergantian    (misalnya    Humpel     &  Caputi,   2001.,   Ciarrochi   &
Deane, 2001., Ciarrochi, Deane, Wilson, & Rickwood,             2002 dan Morrison, 2005).
         Teori kecerdasan emosional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990 oleh    Salovey    dan   Mayer     (dalam   Goleman,      2001a)    dengan    merujuk    pada perkembangan        terdahulu   yang   dikenal  dengan   aspek      kecerdasan   nonkognitif (non-cogitive    aspect    of  intelligence)  (Cherniss,   2000).   Kecerdasan      emosional merupakan salah satu domain kecerdasan dalam kerangka kecerdasan manusia. Meskipun      kecerdasan     emosional     merupakan      domain    yang   berbeda     dengan kecerdasan       kognitif,  akan     tetapi  pada    esensinya      kecerdasan     emosional merupakan integrasi antara pusat-pusat emosi dalam otak (yang disebut sistem limbik) dengan pusat-pusat kognitif (korteks prefrontal) (Cherniss, 2001). Gardner (1999)     juga   sepaham      dengan     pandangan       bahwa     kecerdasan     emosional merupakan   salah   satu   dari   kerangka   kecerdasan   manusia.   Dalam   teori   yang disebut    Multiple     Intelligences,    Gardner     (1999)    memasukkan        kecerdasan emosional   dalam   spektrum   kecerdasan   personal   (personal   intelligence)   dalam mana   terdapat   dua   ragam   kecerdasan   yang   disebut   kecerdasan   interpersonal (interpersonal      intelligence)    dan     kecerdasan      intrapersonal     (intrapersonal intelligence).Goleman(2001a), dalam   kerangka  teori  kecerdasan emosional yang dikembangkannya, mensetarakan  kecerdasan interpersonal  versi   Gardner tersebut dengan kesadaran diri dan majemen diri, dan kecerdasan intrapersonal dengan kesadaran sosial dan manajemen kerjasama.
         Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang terkait dengan pengenalan dan pengaturan emosi yang ada dalam dirinya sendiri dan dalam diri orang   lain.  Mayer,   Salovey,   dan   Caruso  (dalam   Cheniss,   2001:3)   mengartikan kecerdasan   emosional   sebagai   “The   ability   to   perceive   and   express   emotion,
assimilate emotion in thought, understand and reason with emotion, and regulate emotion     in  the  self  and   others”.   Selanjutnya Goleman  (2001a:14) memberi  batasan yang lebih ringkas terhadap konsep kecerdasan emosional: “Emotional intelligence,   at   the   most   general   level,   refers   to   the  abilities   to   recognize   and
regulate emotions in ourselves and in others.” Terkait dengan definisi singkat ini, Goleman   (2001a) mengusulkan   empat   domain   utama   kecerdasan   emosional: Kesadaran-Diri (Self-Awareness), Manajemen-Diri  (Self-Management), Kesadaran Sosial (Social Awareness), dan Manajemen Kerjasama (Relationship Management).
         Dalam perkembangan lebih lanjut, konsep kecerdasan emosional banyak dikaitkan dengan kinerja seseorang di tempat kerja. Perkembangan inilah yang kemudian mendorong berkembangnya konsep kompetensi emosional (emotional competencies) yang pertama kali digulirkan oleh Goleman (1998). Boyatzis dan Sala (2004)    menyatakan bahwa bergulirnya konsep kompetensi  emosional seiring   dengan digunakannya pendekatan   kompetensi(competency  approach) dalam  penelitian kecerdasan emosional, sebuah pendekatan  penelitian yang memfokuskan pada penjelasan dan  prediksi terhadap  keefektifan di  berbagai bidang pekerjaan, terutama yang terkait dengan kinerja manajer dan pemimpin. Dalam pendekatan kompetensi ini kemampuan-kemampuan khusus diidentifikasi dan   divalidasi   berdasarkan   keefektifan, atau, sering, diteliti   secara   induktif   dan diartikulasikan sebagai kompetensi (Boyatzis & Sala, 2004). Selain itu, Boyatzis dan  Sala   (2004)   juga  menyebutkan bahwa   kecerdasan   emosional merupakan konstrukyang dapat  diidentifikasi sebagai kompetensi karena kecerdasan emosional sebagai  sebuah  konsep   terintegrasi tidak  hanya menawarkan kerangka yang kuat dalam  mendiskripsikan disposisi manusia—namun juga menawarkan struktur teoritik tentang organisasi kepribadian dan mengkaitkannya dengan teori tindakan dan kinerja di tempat kerja.
         Kompetensi didefinisikan sebagai kemampuan atau kapabilitas (Boyatzis & Sala, 2004). Kompetensi merupakan serangkaian perilaku yang berbeda-beda namun  saling terkait  satu  dengan  lainnya  yang   diorganisasikan berdasarkan sebuah konstruk, yang disebut  “intent”  (Boyatzis  &  Sala, 2004). Konstruksi kompetensi semacam itu  mencakup   tindakan dan  intent  memerlukan   metode pengukuran yang memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap perilaku yang tampak maupun inferensi terhadap intent.
         Dengan memadukanpengertian kompetensi dan  kecerdasan  emosional sebagaimana  dikemukakan di  atas, Goleman(2001b:27), mendefinisikan kompetensi kecerdasan  emosional  sebagai “a  learned   capability based on emotional   intelligence   that   results   in   outstanding   performance   at   work”.   Dalam definisi ini, tampak bahwa kompetensi emosional merupakan intent  dan kinerja di    tempat    kerja   dan    merupakan   serangkaian  kemampuan yang  terkait dengannya. Berdasarkan definisi Goleman tersebut, Boyatzis dan Sala (2004:5) merumuskan definisi  yang   lebih  rinci  terkait  dengan    kompetensi     kecerdasan emosional:  “emotional    intelligence    competency    is  an   ability  to  recognize, understand, and use emotional information about oneself or others that leads to or   causes   effective   or   superior   performance.”   Terkait   dengan   empat   dimensi kecerdasan   emosional   di   atas,   Boyatzis   dan Sala   (2004)   menyatakan   bahwa kecerdasan   emosional   merupakan   serangkaian   kompetensi,   atau   kemampuan, tentang bagaimana orang: (a) menyadari diri sendiri; (b) mengelola diri  sendiri;
(c) menyadari orang lain; dan (d) mengelola relasinya dengan orang lain.




Kompetensi Emosional
         Terdapat   20   kompetensi   emosional   yang   diidentifikasi   Goleman   (2001). Sebagai   sebuah    konstruk    yang   terbangun     berdasarkan     konsep     kecerdasan emosional, pengelompokan  kompetensi-kompetensi emosional itu tetap didasarkan pada bangunan kerangka kecerdasan emosional. Goleman (2001b), yang     kemudian     dimodifikasi    oleh   Boyatzis,    Goleman,     dan    McKee     (2002), mengelompokkankompetensi-kompetensi   emosional     kedalam    empat    dimensi kecerdasan emosional sebagaimana telah dikemukakan di atas: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, dan manajemen kerjasama. Dua kompetensi pertama disebut Kompetensi Personal (Personal Competence) dan dua lainnya disebut Komptensi Sosial (Social Competence). Selain dari aspek personal dan sosial,   kompetensi-kompetensi tersebut   juga   dikelompokkan   menjadi  Rekognisi yang    terdiri  dari  Kesadaran     Diri  dan   Kesadaran Sosial  dan   Regulasi    yang meliputi Manajemen Diri dan Manajemen Kerjasama. Kerangka kerja kompetensi emosional    tersebut  kemudian    disajikan  sebagaimana  Gambar    2.2.  Boyatzis, Goleman,     dan   McKee    (2002)  menjelaskan    kompetensi-kompetensi      tersebut sebagai berikut.


Diri Sendiri (Kompetensi Personal)
Orang Lain(Kompetensi Sosial)

Rekognisi
Kesadaran-Diri
Kesadaran Sosial
Kesadaran-diri Emosional      
Empathi
Asesmen-diri yang akurat      
Orientasi layanan
Kepercayaan-Diri              
Kesadaran organisasi
Regulasi
Manajemen-Diri
Manajemen Kerjasama

Kendali-diri Emosional        
Inspirasi

Bertanggungjawab
Pengaruh

Adaptabilitas
Mengembangkan  orang lain

Kehati-hatian                     
Katalisator perubahan

Mendorong Prestasi            
Manajemen konflik

Inisiatif
Membangun  kebersamaan


Kerja kelompok dan  kolaborasi

Gambar 2.2 Kerangka Kerja Kompetensi emosional (Goleman, 2001b)

a.   Keasadaran Diri
        Tiga kompetensi yang termasuk dalam dimensi ini meliputi kesadaran-diri emosional (emotional self-awareness), asesmen-diri yang akurat (accurate self- assessment), dan  kepercayaan diri  (self-confidence). Individu  yang  memiliki kompetensi Kesadaran-Diri   Emosional  dapat   mendengarkan tanda-tanda  di dalam dirinya   sendiri,  mengenali bagaimana  perasaannya   mempengaruhi diri dan  kinerjanya. Individu  itu  bersedia   mendengarkan dan  menyelaraskan  diri dengan  nilai-nilai   yang   membimbingnya   dan   seringkali  secara   naluriah   dapat menentukan tindakan yang terbaik, melihat gambaran besar dalam situasi yang rumit. Orang yang sadar-diri emosional dapat bersikap tegas dan otentik, mampu berbicara terbuka tentang emosinya atau berbicara dengan keyakinan yang kuat terhadap visi yang membimbingnya.
         Kompetensi   asesmen-diri yang   tepat   memampukan   dengan   mengetahui keterbatasan dan  kekuatannya,  dan  menunjukkan  citarasa   humor    mengenai dirinya   sendiri.   Ia   menunjukkan  pembelajaran   yang   cerdas   tentang   apa   yang mereka pandang memerlukan perbaikan serta menerima kritik dan balikan yang membangun.   Penilaian   diri   yang   akurat   memampukan   seseorang   mengetahui kapan harus meminta bantuan dan dimana ia harus memfokuskan dirinya pada usaha pengembangan kekuatan yang baru.  Pengetahuan yang tepat terhadap    kemampuan    diri  sendiri   akan memampukan seseorang untuk bermain-main dengan kekuatannya itu. Individu yang percaya diri mampu menerima tugas yang sulit. Individu semacam ini sering kali   memiliki  kepekaan     terthadap    keberadaannya,      suatu   keyakinan    diri  yang
membuatnya menonjol ketika berada dalam kelompok.

b.   Manajemen Diri
         Kompetensi-kompetensi yang   termasuk dalam dimensi ini  meliputi kendali-diri emosional (emotional self-control), dapat dipercaya (trustworthiness), adaptabilitas (adaptability), inisiatif, mendorong prestasi (achievemen drive), dan kehati-hatian atau  conscientiousness.  Ciri-ciri  dari  individu yang memiliki kompetensi-kompetensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
         Seseorang yang memiliki kendali-diri emosional dapat menemukan cara-cara   mengelola perasaannya yang sedang terganggu oleh   pihak lain atau atas dorongan-dorongan dirinya sendiri, dan bahkan dapat menyalurkannya kedalam cara-cara   yang   bermanfaat.   Ciri   individu  yang   memiliki   kompetensi   kendali-diri emosional yang baik adalah orang yang tetap tenang dan berfikiran jernih ketika berada   dalam   tekanan   tinggi   atau   ketika   berada   dalam   suasana   krisis—atau seseorang      yang    tidak  goyah     meskipun     berhadapan      dengan    situasi   yang menantang ketahanannya.
        Seseorang       yang   dapat    dipercaya  mempertahankan  nilai-nilai  yang diyakininya.  Istilah  lain  dari   kompetensi  ini  adalah    transparansi,    suatu keterbukaan   yang   sungguh-sungguh  kepada    orang   lain  mengenai    perasaan, keyakinan,  dan   tindakan    seseorang,  yang    memampukan seseorang  untuk memiliki integritas. Orang semacam ini mengakui secara terbuka keslahan yang diperbuat,    menentang     perilaku  yang   tidak  etis  kepada   orang   lain,  dan  tidak berpura-pura tidak tahu.
        Adaptabilitas     merupakan     kompetensi  yang   memampukan  seseorang dapat menyesuaikan diri, dapat menghadapi berbagai tuntutan tanpa kehilangan fokus   atau   energi,  dan   tetap  nyaman    berada   pada   situasi-situasi  yang   tidak menentu yang sering tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan organisasi. Orang itu   luwes   dalam   menyesuaikan   dirinya   dengan   tantangan   baru,   cekatan   dalam menyesuaian   dengan   perubahan   yang   berlangsung   cepat,   dan   berfikiran   gesit ketika menghadapi realitas baru.
        Mandorong   prestasi   membuat   seseorang   memiliki   standar   pribadi   yang tinggi  yang   mendorongnya untuk terus melakukan perbaikan kinerja—baik bagi dirinya sendiri, maupun orang lain, terutama ketika ia sedang memimpin. Orang dengan     kompetensi     ini  bersikap  pragmatis,    menetapkan   tujuan-tujuan   yang
terukur namun tetap menantang, dan mampu memperhitungkan resiko sehingga tujuan-tujuan yang dicita-citakan layak untuk dicapai. Ciri utama kompetensi  ini adalah kesediaan untuk terus belajar—dan membelajarkan—berbagai cara untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih baik.
        Seseorang yang   memililki  kepekaan     akan    keberhasilan—bahwa ia memiliki    apa   yang   dibutuhkan   untuk   menentukan  nasibnya   sendiri—memiliki keunggulan  dalam   inisiatif.  Ia   mampu      menangkap       kesempatan—atau menciptakannya—dan bukan hanya menunggu. Individu semacam ini tidak ragu
menghadapi rintangan, bahkan jika terpaksa harus menyimpang dari aturan, jika memang  diperlukan   untuk  menciptakan     peluang    yang   lebih  baik  bagi  masa depan.
        Optimisme merupakan kompetensi terakhir dari dimensi Manajemen Diri. Seseorang yang optimistis dapat tetap bertahan ketika berada di tengah-tengah kepungan   dan   mampu   melihat   kesempatan,   bukan   ancaman.   Dalam   suasana yang     sulit.  Orang    semacam      ini  melihat   orang    lain  secara    positif  dan
mengharapkan yang terbaik dari mereka. Pandangan orang semacam itu penuh dengan   harapan   bahwa   perubahan   di   masa   depan   adalah   demi   sesuatu   yang lebih baik.

c.   Kesadaran Sosial
          Dimensi   kesadaran   sosial   tersusun   oleh   empati,   kesadaran   organisasi (organizational   awareness), dan orientasi  layanan (service orientation). Individu yang berempati mampu mendengarkan berbagai tanda emosi,   membiarkan diri merasakan  emosi    yang   dirasakan     oleh   seseorang     atau   sekelompok      orang
meskipun   tidak   dikatakan.Orang   ini   mendengarkan   dengan   cermat   dan   dapat menangkap cara pandang orang lain. Empati membuatnya dapat bekerja sama dengan   baik   dengan   orang-orang   yang   berasal   dari   berbagai   latar   belakang atau budaya.
         Kesadaran   berorganisasi   yang   tinggi   dapat   membuat   seseorang   cerdas secara  politis,  mampu     mendeteksi  jaringan    kerja  sosial   yang   penting    dan membaca    hubungan kerjasama  yang    penting.   Orang  ini  dapat   memahami kekuatan   politik   yang   sedang   berkembang   di   dalam   organisasi,   juga   nilai-nilai yang     membimbing  jalannya    organisasi,  dan   aturan-aturan nonverbal  yang berlaku dikalangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
         Pemimpin  yang memiliki  kompetensi pelayanan  yang  tinggi menumbuhkan iklim emosi yang membuat orang-orang yang berada pada posisi berhubungan   langsung   dengan   pelanggan   atau   klien,   akan   menjaga   hubungan dengan cara yang benar. Pemimpin seperti ini memantau kepuasan pelanggan dengan teliti untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Pemimpin itu juga membuka dan menyediakan diri ketika diperlukan.

d.   Manajemen Kerjasama
         Lima kompetensi  yang merupakan   jabaran  dari  dimensi   ini  meliputi inspirasi (inspiring),  pengaruh     (influence), mengembangkan orang  lain (developing others), katalisator perubahan (calalizing change),    manajemen konflik   (conflict   management),   kerja   kelompok   dan   kolaborasi   (teamwork   and collaboration). Pemimpin yang menginspirasi akan menciptakan resonansi serta menggerakkan orang  dengan   visi  yang   menyemangati   atau  misi   bersama. Pemimpin seperti ini menjalankan sendiri apa yang dimintanya dari orang lain dan mampu  mengartikulasikan  suatu misi  bersama dengan  cara  yang membangkitkan   inspirasi  orang  untuk   mengikutinya. Mereka menawarkan perasaan  tujuan di balik   tugas  sehari-hari   dan   membuat   pekerjaan   menjadi lebih menggembirakan.
        Tanda kekuatan pengaruh pemimpin berkisar pada kecerdasannya dalam menemukan daya tarik yang tepat bagi pendengar tertentu sampai mengetahui cara    mendapatkan persetujuan    dari  orang-orang     penting   dan   membangun jaringan    pendukung      atas   inisiatif  yang  dibuatnya.    Pemimpin     yang    mahir mempengaruhi memiliki kemampuan membujuk dan melibatkan orang lain ketika berhadapan dengan kelompol.
         Kompetensi   mengembangkan orang   lain membuat seseorang  mahir menunjukkan  minat yang   tulus  kepada    pihak  yang   dibantunya,    memahami tujuan,    kekuatan     serta   kelemahan     mereka.     Orang    semacam   ini  dapat memberikan umpanbalik yang   membangun pada waktu  yang tepat dan merupakan mentor atau pembimbing yang alami.
         Pemimpin dengan kompetensi menjadi katalisator  perubahan  mampu mengenali kebutuhan akan     perubahan, menantang status  quo, dan memperjuangkan aturan   baru.   Mereka    dapat   menjadi   penasihat    yang   kuat terhadap perubahan bahkan  di  hadapan oposisi sekalipun, dan  mampu membuat  argumentasi  yang   mampu    menumbuhkan semangat. Mereka  juga menemukan cara-cara yang praktis untuk mengatasi hambatan perubahan.
        Pengelolaan konflik merupakan  kompetensi yang membuat  seorang mampu menggalang berbagai pihak, memahami sudut pandang yang berbeda, dan kemudian menemukan cita-cita bersama yang dapat disepakati oleh setiap orang.  Mereka mengangkat  konflik  ke  permukaan,  mengakui  perasaan  dan pandangan dari semua pihak, dan kemudian mengarahkan energi ke arah cita-cita bersama.
         Pemimpin yang mampu bekerja dalam tim akan menumbuhkan suasana kekerabatan yang ramah dan mereka sendiri mencontohkan penghargaan, sikap bersedia   membantu,   dan   kerjasama.   Mereka   menarik   orang-orang   ke   dalam komitmen      yang   aktif  dan  antusias   bagi   usaha   bersama,  dan   membangun semangat serta identitas. Mereka meluangkan waktu untuk menumbuhkan dan mempererat kerjasama   yang   akrab, lebih   dari   sekadar   tuntutan dan   kewajiban pekerjaan.
C.   Rangkuman
        Emotional Competencies  atau   kompetensi  emosional merupakan kemampuan khusus agar  seseorang    terampil   memanfaatkan kecerdasan emosinya dalam perilaku kepemimpinannya. Sebagai penyokong kepemimpinan yang efektif, kompetensi ini dikelompokkan menurut empat dimensi: kesadaran diri  (self  awareness),   manajemen diri  (self  management),   kesadaran    sosial (social   awareness),    dan   keterampilan    sosial  (social  skills).  Kesadaran   Diri adalah kemampuan yang mencakup kesadaran emosional diri sendiri, penilaian diri secara akurat, dan rasa percaya diri. Manajemen Diri meliputi adaptibilitas, pengendalian emosi diri, inisiatif, orientasi kepada prestasi, dapat dipercaya, dan optimisme.  Kesadaran  Sosial   mencakup   empati,   orientasi  melayani, an kesadaran   organisasional.Manajemen Kerjasama  terdiri   dari   kepemimpinan inspirasional,  pengembangan orang   lain,  katasilator  perubahan, manajemen konflik, kerja tim dan kolaborasi.



Comments

Popular posts from this blog

Manajemen Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Prospek Pengembangan Sumber Belajar di Sekolah

Manajemen Penilaian Hasil Pembelajaran