Prinsip-prinsip Penanganan dan Orientasi pada Warga Sekolah

Prinsip-prinsip Penanganan dan Orientasi pada Warga Sekolah
1.    Program yang mudah dibuat.
2.     Menggunakan alat perlengkapan seadanya.
3.     Program yang mudah diimplementasikan.
4.     Program yang mudah dimonitoring dan dievaluasi.
5.     Program yang pelaksanaannya fleksibel.
6.     Penciptaan suasana kerjasama.
Penanganan Secara Massal dan Melalui Sasaran
  Penanganan tidak hanya berhubungan dengan siswa, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan
guru pembimbing sendiri, para personil pelaksana dan sarana/prasarana dan anggaran biaya yang
mendukung.
Perencanaan program bimbingan dan konseling menitikberatkan pada beberapa subjek sasaran yang
sangat membutuhkan. Penanganan melalui sasaran menghendaki manajemen tertentu, mudah
dilaksanakan dan menghasilkan sesuatu yang nyata.
Usaha-usaha penanganan akan lebih efektif jika pada awalnya ditujukan pada subjek tertentu yang
membutuhkan, dan bukan siswa secara massal. Sasaran yang dituju merupakan individu-individu
yang harus dilayani untuk mengatasi hambatan dan kesulitan sehingga dapat memenuhi kebutuhan
mereka. Manajemen demikian dapat membuat “pasar” potensial di sekolah akan menjadi lebih besar.

BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH  2

Pendekatan yang paling baik yang mungkin dituju, dengan menentukan strategi dan taktik untuk
menangani siswa.
Guru pembimbing juga merupakan subjek sasaran, atau lebih tepatnya bahwa, sebelum ia
mengorientasikan pelayanannya pada siswa yang sangat membutuhkan, ia terlebih dahulu hendaknya
mampu “menangani” dirinya sendiri.
Subjek sasaran berikut ialah para personil pelaksana. Mereka menjadi subjek demikian adalah dalam
rangka mengefektifkan penyiapan dan pelaksanaan program, menghidupkan mekanisme kerja,
menghidupkan fungsi-fungsi yang belum berjalan serta untuk koordinasi dan pengendalian. Subjek
sasaran di sini tentu bukan menjadi sasaran bimbingan, tetapi menjadi subjek sasaran manajemen.
•  Penanganan Efektif: Tekanan Utama
Istilah efektif dalam penanganan bukan berarti semata-mata untuk efektifitas pencapaian tujuan,
yakni berupa hasil-hasil yang diperoleh siswa. Dia bukan pula berarti semata-mata untuk efektifitas
program yang dilaksanakan, dengan mengabaikan prosesnya. Istilah efektif bukan hanya melihat efek
optimal dari suatu penanganan. Bila hasil  menjadi tekanan, maka semua cara yang dimaksud untuk
mendatangkan hasil, termasuk cara-cara yang represif yang tidak mendidik, adalah sah. Istilah efektif
yang dimaksud di sini adalah tidak mengabaikan prosesnya.
Berkenaan dengan kegiatan ketika menyiapkan program, implementasi program, dan evaluasi
penekanan ada pada proses kegiatan yang dipandu oleh profesionalisme, yang pada akhirnya akan
memberikan hasil-hasil yang nyata.
Penanganan subyek sasaran siswa dapat dikelompokkan secara kasar menjadi tiga, yakni Kelompok
Atas, Tengah dan Bawah. Istilah efektif secara luas menunjuk kepada efektivitas dalam proses
menyiapkan perencanaan program, dalam implemantasi program dan dalam evaluasi serta
pertimbangan keputusannya.
 


                                            Tabel Konsep Penanganan Efektif

Catatan :  Perbedaan istilah Penanganan Efektif pada tabel di atas dimaksudkan hanya
untukmemudahkan pembahasan dan visualisasi. Tidak ada maksud untuk memisahkannya.
Dalam praktik, kedua istilah tersebut tidak dapat dipisahkan.

        Penanganan efektif tidak sama dengan pencapaian hasil semata. Dia adalah menangani proses sejak bagaimana program (dalam satuan layanan dan kegiatan pendukungnya) dibuat, kemudian prosesimplemantasi dan evaluasinya. Ketiga hal ini, memerlukan informasi, keputusan dan tindakan(perbuatan).

Tekanan Utama dalam Penanganan Efektif

Penanganan efektif adalah proses yang terencana, sistematis dan kontinyu, yakni proses yang
terkendali, yang dikendalikan untuk memberikan bukti hasil. 


Manajemen Penanganan Efektif: 

1.    Manajemen Penanganan Efektif bimbingan dan konseling di sekolah menunjuk kepada
kemampuan guru pembimbing menangani subjek dan objek sasaran tertentu dengan
menyiapkan perencanaan program sesuai dengan kebutuhan subjek yang akan memberikan
makna tertentu bagi mereka. 

2.  Produk perencanaan program yang berupa satuan layanan dan kegiatan pendukung selanjutnyadiimplemantasikan dan akhirnya diberikan evaluasi proses dan hasil. Implemantasinya sendirimemerlukan tahapan dan pengorganisasian dengan maksud untuk menghidupkan fungsi-fungsipersonil pelaksana. 

3. Kemampuan pendayagunaan sumber tersebut dalam menjalankan satuan layanan dan kegiatan
pendukung, dengan maksud agar siswa bersedia menuruti kemauan guru pembimbing dalam
mencapai tujuan pembimbingan.


Penanganan Efektif: Tekanan Khusus
•  Tekanan khusus dalam pembimbingan, dengan mempertimbangkan meliputi aspek-aspek sebagaiberikut:
•  Bahwa pembimbingan menurut esensinya mempunyai tujuan dan makna penuh, dan subjek pedulipada makna itu.
•  Proses pembimbingan ialah usaha mencari dan menemukan diri sendiri.
•  Hasil-hasil dari proses pembimbingan dapat berupa pemahaman, pengertian, kejelasan, kesadaran,
perubahan perilaku/kebiasaan dan perkembangan.
•  Hasil-hasil demikian harus dapat dimanfaatkan subjek untuk menghadapi tantangan dan kesempatandalam hidupnya.

 
Gambar: Tekanan Khusus dalam Penanganan Efektif

Adanya tujuan yang bermakna
Mursell mengemukakan ada tiga pendirian yang dikaitkan dengan bimbingan:
Ø  Pembimbing dikatakan bermakna bila subjek dihadapkan dalam dan dengan perantaraan situasi yangnyata.
Ø  Menghendaki semua pekerjaan sekolah hendaknya diatur berdasarkan paham bahwa, semua aktifitassubjek dilakukannya dengan sepenuh hati.
Ø  Pembimbingan di sekolah tidak boleh dipaksakan oleh kekuasaan “atasan”, atau kekuasaan dari luarsubjek, melainkan dorongan itu hendaknya selalu muncul dari pilihan bebas subjek.

Pembimbingan sebagai proses mencari dan menentukan diri sendiri
  Bimbingan dan konseling antara lain bertujuan agar subjek dapat memahami dan menerima diri sendiri,serta merencanakan masa depan atas kekuatan sendiri.
Usaha-usaha yang dilakukan kedua belah pihak, yakni siswa mengusahakan bagaimana ia melakukaneksplorasi dan penemuan itu, dan guru pembimbing membantu dan memberikan dorongan/persetujuanbila terjadi kemajuan yang dicapai siswa. Proses yang demikian ditunjukan oleh aktivitas dan partisipasiaktif siswa dalam melakukannya dan kesungguhan konselor dalam membimbing. Semua usaha, aktivitasdan partisipasi mereka bukanlah sebagai hal yang terpisah-pisah, melainkan dalam suatu pertumbuhan.
      Hasilnya berupa pemahaman, perubahan perilaku kebiasaan dan perkembangan yang mantap.
Bila eksplorasi di atas berjalan dengan efektif, hasil -hasilnya berupa pemahaman, perubahan
perilaku/kebiasaan baru yang lebih baik dan perkembangan yang berkelanjutan.
Pemahaman merupakan dasar untuk perkembangan, bahkan keterampilan yang berupa pembiasaanbelajarpun tekanan pokoknya perlu diletakan pada pemahaman dalam arti seluas-luasnya. Terampildalam menerapkan cara belajar tidak diperoleh hanya dengan latihan menerapkannya, tetapi olehpemahaman yang mendasarinya. Subjek perlu menciptakan bagi dirinya sendiri suatu pola kebiasaan yangmasuk akal baginya, dan hal yang demikian itu akan dapat dicapai dengan sebaik-bainya bila iamenggunakan kecerdasannya yang kritis menghadapi persoalan sekitar pembentukan kebiasaan belajaryang baik. Pemahaman menjadi dasar perubahan perilaku/kebiasaan dan perkembangan subjek.

Pemanfaatan hasil
Pembimbingan tidak menghendaki subjek menjadi tergantung. Pembimbingan yang bermakna, yangberlangsung dalam suatu proses eksplorasi dan penemuan diri, akan memberikan hasil-hasil yangmantap, dan hasil itu dapat “ditularkan” untuk mengatasi persoalan-persoalan lain. Pembimbingan yangtidak menarik perhatian dan minat, yang diikuti dengan setengah motivasi, tidak akan menghasilkansesuatu yang berarti dan yang akan mudah dilupakan, subjek akan datang lagi dikemudian hari untuk halyang sama.
Dengan demikian memberikan tekanan khusus pada:
Ø  Adanya tujuan pembimbingan yang bermakna yang didasarkan atas penelahaan kebutuhan subjek.
Ø  Proses eksplorasi dan penemuan diri yang dicirikan oleh usaha, aktivitas dan partisipasi subjek dalampertumbuhannya.
Ø  Hasilnya yang berupa pemahaman, perubahan perilaku/kebiasaan dan perkembangan.
Ø  Pemanfaatan hasil.
Maka arti efektif dalam penanganan bukanlah untuk menekankan pada efek optimal yang diharapkandari suatu perlakuan/tindakan semata, melainkan menekankan pada input, proses, produk dan outputpada setiap tahap kegiatan, penanganan serta tindak lanjutnya.

Kriterium Penanganan Efektif
     Segala usaha pembimbingan yang dipandu oleh tindakan profesional dan profesionalisme harus memberikan suatu hal, dan untuk itu perlu ada kriteria tunggal.Kriterium utama penanganan efektif ialah bagaimanakah penanganan dikatakan memberikan hasil yangnyata bermanfaat? Sukses tidaknya penanganan ditentukan oleh input, proses dan hasil penanganan itu.
Berhasil bila subjek sasaran, dalam hal ini siswa, memberikan makna tertentu pada pembimbingan, dapatmelakukan aktivitas dan partisipasi dalam pertumbuhan, dan menunjukan pemahaman, perubahan yanglebih baik serta perkembangan yang berkelanjutan.
Dalam konseling, siswa yang lumpuh kemauannya untuk belajar, termotivasi kembali untuk belajar, dansiswa yang sulit mengambil keputusan dapat mengambil keputusan atas kemauannya sendiri.Mursell dan Nasution (1995), “Dengan hasil-hasil yang bagaimanakah suatu penanganan efektif dapatdinilai sukses? Sukses dalam penanganan efektif dinilai berdasarkan input, proses hasil yang mantap, danyang dapat dipergunakan oleh subjek sasaran dalam hidupnya. 
Penanganan yang bagaimana dapat memberikan hasil yang nyata bermanfaat, mantap dan otentik?
       Penanganan efektif pada setiap kegiatan membimbing dilakukan secara terencana, sistematis dankontinyu. Terencana artinya, setiap satuan layanan dan kegiatan pendukungnya perlu didasarkan ataspenelaahan kebutuhan warga sekolah. Sistematis artinya, satuan layanan dan satuan pendukung itudisiapkan dan diimplementasikan secara bertahap dengan strategi dan langkah-langkah yang teratur,mulai dari subjek yang sangat membutuhkan, dengan menggunakan prosedur yang sederhana kepadayang komplek, dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sifatnya terbatas kepada yang lebih luas,dari hasil-hasil yang sederhana kepada hasil yang lebih bermanfaat, demikian juga sistematis dalampenggunaan waktu, tenaga dan biaya. Kontinyu dimaksudkan, penanganan efektif menghendaki adanya kesinambungan dalam pelayanan.
      Apakah penanganan efektif harus dinilai dengan hasil-hasil penguasaan mata pelajaran, ataukahperkembangan murid sebagai manusia? Membimbing dengan efektif dengan mengabaikan pencapaianprestasi anak dalam kontradiktif. Akan tetapi sebaliknya penguasaan materi pelajaran denganmengabaikan perkembangan kepribadian, perkembangan sosial, belajar dan karirnya dapat melumpuhkandiri sendiri. Penanganan efektif mengusahakan agar isi dan jenis layanan bimbingan dan konselingbermakna bagi kehidupan anak dan dalam pada itu membentuk kepribadiannya.
Apakah penanganan efektif menganjurkan suatu strategi dan taktik tertentu agar tercapai tujuan dengansukses? Strategi dan taktik senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan penanganan, yang pada akhirnya diakhiri dengan kegiatan redesign dan recycle. Redesign mengharuskan guru pembimbing untuk mengubahrancangan satuan layanan dan kegiatan pendukung bila taktik dan isinya kurang sesuai, danmengimplementasikannya kembali (recycle) pada kesempatan berikutnya.Apakah kriterium penanganan efektif memerlukan sarana dan prasarana yang berlebihan? Kekurangan-kekurangan, dalam perlengkapan tidak dijadikannya alasan untuk menyerah kepada keadaan. Sebaliknyajustru dalam keadaan yang seba kurang itulah ternyata betapa banyaknya hal yang dapat dicapai olehpetugas bimbingan yang baik.

Guru Pembimbing Sebagai Instrumen Utama
Kedudukan guru pembimbing dalam penanganan efektif memegang peranan utama. Ia sekaligus sebagaiperencana, pelaksana, pengelola, pengendali, penilai, dan pada akhirnya menjadi pelopor dari hasilpelaksanaan layanannya. Pengertian instrumen utama di sini memang tepat karena ia menjadi segala-galanya dari keseluruhan proses bimbingan dan konseling. Dan dia pulalah yang menggerakan stafpersonil pelaksana yang terkait untuk melaksanakan bimbingan sesuai dengan kewajiban dan tugasmereka dalam bimbingan dan konseling. Guru pembimbinglah yang memberikan bentuk nyatabimbingan dan konseling di sekolahnya, bukan hanya bentuk abstrak yang ada dipikirannya. Dalamkeadaan yang serba tidak pasti dilapangan, maka tidak ada pilihan lain dan hanya dialah yang pertama-tama harus tampil, bukan alat dan perlengkapan serta fasilitas lainnya.

Mengubah Ide Menjadi Tindakan
Dalam penanganan efektif, ide harus diubah menjadi tindakan nyata dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Hanya dengan demikian bimbingan dan konseling akan tetap hidup, baik di hati petugas, siswa,pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, dan seterusnya, maupun hidup dalam tindakanmereka.

Comments

Popular posts from this blog

Manajemen Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Prospek Pengembangan Sumber Belajar di Sekolah

Manajemen Penilaian Hasil Pembelajaran